Bagaimana dengan mu?
Aku hanya bisa diam, sebenarnya aku juga mencintaiya. Hanya saja aku sedikit takut untuk mengatakannya. Aku takut di hatinya ada orang lain selain aku.
Sebenarnya ketakutan ku merupakan hal bodoh, ya bodoh sekali.
Mengapa? Kalau dia benar-benar mencintaimu, secantik-cantiknya wanita di luar sana, semenarik-nariknya wanita di depannya, jika dia benar-benar tulus mencintaimu dia tidak akan pernah mau memandang yang lain.
Tapi pemikiran itu sangat terlihat begitu simple. Jika saja itu benar-benar terjadi, apa kamu bisa mengahadapinya?
Hening.
Iya aku bisa menghadapinya.
Sebentar, aku ceritakan kisahku dulu.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Dulu aku punya kekasih. Sebenarnya aku sudah berteman baik dengannya, sebelum menerimanya.
Sampai akhirnya dia meyatakan cintanya. Cukup lama dia menunggu jawaban dari ku.
Aku sempat ragu, sebab dia baru beberapa minggu putus cinta dari kekasihnya.
Dengan segala pemikiran aku menerimanya sebagai kekasih, karena aku mengira kami suah cukup akrab berteman jadi akan mudah untuk menjalani hubungan.
Setelah beberapa bulan, aku baru sadar kalau aku hanya dijadikan tempat pelampiasan.
Bagaimana perasaanku saat itu?
Sudah pasti terasa sakit yang amat dalam.
Di saat sudah berekspetasi bahwa aku bisa 'selalu' bersamanya. Ternyata berbulan-bulan aku hanya dijadikan tempat untuk melupakan masalalunya.
Aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya, iya pergi. Bagaimana mungkin aku mencintai orang yang tidak mencintaiku?
Berjuang sendiri itu bukan cinta, itu "sia-sia".
Melupakan kebiasaan yang sering dilakukan bersama-sama tidaklah mudah.
Dia datang lagi menawarkan cinta yang sudah (basi)?
Jangan mudah untuk mempermainkan hati orang lain, jika kamu sendiri tidak ingin dipermainkan.Terus bagaimana dengan hubungan pertemanan ku yang bertahun-tahun sebelum menjadi kekasihnya terlihat baik-baik saja?
Hancur! Seperti hatiku saat itu.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Perlu waktu bertahun-tahun untukku untuk melupakannya. Sampai akhhirnya banyak waktu yang aku buang sia-sia untuk mengahapus dia dari ingatanku.
Bertahun-tahun.
Bahkan aku memutuskan untuk tidak mau lagi mempunyai 'kekasih' hampir 3 tahun lamanya.
Betapa hancurnya disaat dengan tulusnya mencintai, disaat itu juga dia mencintai yang lain.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Bagaimana caraku melupakannya?
Mudah, tapi jika pertanyaan ini ditanyakan setelah aku putus cinta kemarin mungkin aku akan menjawab "melupakan tidak semudah menasehati orang lain".
Sini aku kasih tau caranya, sebenarnya semuanya'mudah', kita sendiri yang membuatnya susah.
Kenapa? Karena saat itu kita hanya fokus pada rasa sakit hati.
Kita tidak pernah memikirkan bahwa kita juga 'berhak bahagia'.
Aku yakin apapun yang kita berikan dengan 'tulus', akan ada balasan yang terindah.
Jika tidak sekarang, mungkin nanti.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk mu yang namanya tidak bisa aku sebutkan, jangan pernah mencintaiku jika di hatimu masih ada nama yang lain.
Sebab cinta ini, tulus.